CERPEN: Pemangsa Limbah Buangan

Pemangsa Limbah Buangan Menyusuri sungai, membelah gelombang. Tersenyum di tengah aliran. Kedua tangan terlentang, menikmati semilir angin hangat yang nyaman. “Bukankah cuaca hari ini begitu indah?” ujar remaja berusia empat belas itu kepada sang kakak, yang dua tahun lebih tua darinya. “Hari ini sangat panas dan terlalu panas” si kakak yang menarik jala melirik Laksamana, sang adik yang masih sibuk dengan dunianya sendiri. Berlayar ... Perahu usang dengan goresan pada hampir diseluruh badan, mereka gunakan. Meski terlihat begitu rungkuh, tidak menjadikan benda tua tersebut kehilangan fungsi untuk sekedar berlayar di sungai. Banyak perahu-perahu lain hilir mudik berlalu lalang. Ada yang berlayar seorang diri, ada yang berpasang-pasangan. Satu kesamaan ialah saling menyapa di atas aliran. Laksamana duduk sambil berpegangan, menyingkirkan sampah-sampah di dekat perahunya. Gemuruh di dalam perutnya membuat Deva sang kakak tertawa kecil. “Seperti suara gendang tabuh anak pak lura...