CERPEN: Pemangsa Limbah Buangan
Pemangsa
Limbah Buangan
Menyusuri
sungai, membelah gelombang. Tersenyum di tengah aliran. Kedua tangan
terlentang, menikmati semilir angin hangat yang nyaman. “Bukankah cuaca hari
ini begitu indah?” ujar remaja berusia empat belas itu kepada sang kakak, yang
dua tahun lebih tua darinya.
“Hari ini
sangat panas dan terlalu panas” si kakak yang menarik jala melirik Laksamana,
sang adik yang masih sibuk dengan dunianya sendiri.
Berlayar ...
Perahu usang
dengan goresan pada hampir diseluruh badan, mereka gunakan. Meski terlihat
begitu rungkuh, tidak menjadikan benda tua tersebut kehilangan fungsi untuk
sekedar berlayar di sungai. Banyak perahu-perahu lain hilir mudik berlalu
lalang. Ada yang berlayar seorang diri, ada yang berpasang-pasangan. Satu kesamaan
ialah saling menyapa di atas aliran.
Laksamana
duduk sambil berpegangan, menyingkirkan sampah-sampah di dekat perahunya.
Gemuruh di dalam perutnya membuat Deva sang kakak tertawa kecil. “Seperti suara
gendang tabuh anak pak lurah hem” ejek Deva yang tidak begitu digubris sang
adik. Laksamana hanya fokus pada tugasnya sambil sesekali melirik wadah ikannya
yang masih kosong. “Sepertinya kita tidak akan bisa dapat ikan hari ini” ujar
Laksamana. Membantu meraih jala penuh sampah yang diangkat kakaknya.
Devalino
Putra, si anak sulung itu terlihat menghela nafas. Ia tahu betul arti tatapan
dari Laksamana. Tatapan penuh harapan, mendambakan nasi panas dengan semangkuk
sup ikan segar yang penuh kenikmatan.
“Memang cukup
sulit di musim panas bukan? Tidak apa-apa, pasti besok kita akan mendapatkan
tangkapan bagus” ujar Laksamana, seolah menenangkan kekhawatiran yang
dialaminya sendiri. Deva hanya mampu tersenyum, satu-satunya hal yang membuat
Deva tidak tahu caranya menyerah, adalah tatapan harapan penuh kepercayaan
Laksamana yang tidak pernah sirna.
Setelah
membersihkan jala dari sampah-sampah buangan, keduanya mengembalikan perahu
pinjaman mereka kepada Pak Galih. Pak tua yang memiliki rumah kecil di dekat
sungai, dengan berbaik hati membiarkan kedua remaja ini meminjam perahunya.
Menjual hasil tangkapan, lalu membeli kebutuhan kedua remaja itu lakukan sejak
empat tahun terakhir. Membantu perekonomian sang ibunda yang sudah
sakit-sakitan.
Ayah yang
pergi merantau agar bisa memperbaiki perekonomian keluarga, justru tidak
kunjung berkabar, apalagi kembali pulang.
Dalam
perjalanan, Laksamana melihat sesosok pria yang membuang bungkus rokok ke
sungai. Dengan santai pria berjas itu menghisap tembakau sambil bertelepon
dengan lawan bicaranya. Laksamana yang melihat tindakan si pelintas tidak
diundang, maju hendak menegur. Namun Deva menahan tangannya sambil menggeleng
kecil.
“Berbicara
kepada si tuli hanyalah tindakan melelahkan yang disengaja” Laksamana
melepaskan genggaman sang kakak dan tersenyum kecil. “Tentu melelahkan. Tapi,
bahkan jika hal tersebut melelahkan, tetap harus ada yang mengingatkan bukan?
Memilih untuk tidak melakukan apa yang harus dilakukan, hanyalah sikap apatis
yang disamarkan dengan segudang alasan. Alasan untuk membenarkan tindakan yang
telah dilakukan”.
“Permisi”
Laksamana menegur dan pria yang ditegur menoleh penuh tanya. “Seharusnya anda
tidak membuang sampah ke sungai”. Pria yang masih sibuk dengan telepon
genggamnya itu mengibas-ngibas tangannya, menolak mendapatkan gangguan.
“Bahkan bocah
tidak lanjut smp saja, tau bahwa tidak boleh membuang sampah sembarangan. Tapi
lihat, seorang pria berlagak perkasa dengan pakaian penuh wibawa dan dasi mewah
justru berotak rendah”. Pak Galih, pak tua pemilik perahu itu rupanya berjalan
di belakang mereka. Mungkin hendak memanen sayur mayur yang tidak jauh
ditanamnya di lahan umum milik para warga.
Merasa
tersindir si pria berdasi menutup teleponnya dan bertolak pinggang tidak
terima. “Itu hanya sampah kecil, kenapa harus diributkan” ujarnya penuh percaya
diri. “Bagaimana jika ada seratus ribu orang dengan pemikiran sepertimu, maka
ada seratus ribu sampah. Kami ingin menangkap ikan, justru sampah kalian yang
kami dapatkan” . Berdehem pelan, pria berdasi itu menghela nafas sambil berlalu
pergi. Entah dirinya enggan melanjutkan perdebatan atau mungkin, meski
kemungkinannya sangat kecil, ia mengakui kesalahan.
Pak Galih
menepuk pundak Laksamana sebelum ia juga beranjak pergi. Deva melangkah ke
hadapan Laksamana dan ikut tersenyum. “Kakak mau bantu bu Ita di lapaknya. Dia
akan memberikan bawang dan cabai sebagai upah. Kamu pulang lebih dulu saja dan
jaga ibu” Deva meninggalkan Laksamana setelah remaja itu mengangguk mengerti.
Sup bawang
dan cabai goreng dengan sejumput garam. Jika masih ada beras rasanya tidak
terlalu buruk, bahkan terbilang cukup enak. Tapi jika tidak ada lagi sisa beras
di rumah, maka ketiga anggota keluarga di rumah reotnya harus mengganjal perut
dengan sup bening tanpa isian itu saja.
Laksamana
akhirnya kembali berjalan. Masuk ke gang-gang kecil agar ia bisa lebih cepat
sampai ke rumah. Di aliran sungai kecil dapat Laksamana lihat para warga
berkumpul, tampak mendiskusikan sesuatu.
“Kemarau pak,
makin kacau saja” Ujar salah seorang warga yang suaranya dapat Laksamana
dengar. Laksamana mendekat, melihat
aliran sungai kecil itu yang keruh dan berbusa. Ikan-ikan di sungai kecil itu
terapung mati—tertahan oleh ranting pohon juga
buntalan-buntalan sampah di dasar sungai yang mengering.
“Masuk musim
panas, sudah pasti terjadi hal seperti ini. Debit air sungai berkurang jadinya
didominasi sama air limbah dari hulu sungai sana” Ujar salah seorang warga
lainnya. Pak Damar yang merupakan peternak ikan datang bergabung. Sambil
mengipas-ngipas wajahnya dengan topi, ia berujar. “Tahun lalu limbahnya
membanjiri pemukiman warga, ternak saya pada hilang. Airnya itu panas pak, ikan
saya pada mati, itu di jalur sungai yang besar pasti udah ngga ada ikan kalau
lagi kaya gini”.
Laksamana
dapat menangkap, anak-anak kecil justru turun ke sungai tersebut, mengambil
ikan-ikan yang mengapung tidak bergerak, sambil sesekali bercanda dan tertawa.
Terkadang tidak mengetahui apapun menjadikan kita sebagai sosok tanpa
rasa khawatir. Namun apakah ketidaktahuan adalah jawaban?
Tampaknya
para warga sudah melapor kepada Dinas Lingkungan Hidup sejak tahun lalu.
Masalah seperti ini kerap terjadi terutama di musim panas. Limbah dari pabrik
tahu saja sulit teratasi apalagi ditambah dengan peternakan pabrik susu yang
berdiri sekitar dua tahun lalu.
Beberapa
warga lain ikut mengambil ikan. Entah untuk disantap atau untuk diberikan
kepada binatang ternak mereka.
Laksamana
tahu bahwa kakaknya Deva melarang ia untuk mengambil ikan di sungai kecil,
lantaran pabrik di dekat desa mereka membuang limbah dengan pipa saluran yang
mengarah ke aliran sungai kecil ini. Dampaknya sangat terasa karena aliran
sungai kecil ini, tidak seperti aliran sungai besar di desa sebelah. Namun
Laksamana tetap mengambil beberapa ikan sebelum ia kembali berjalan menuju
rumahnya. Mengabaikan peringatan Deva menjadi pilihan Laksamana.
Sesampai di
rumah, Laksamana menyapa ibunya yang terbaring di tempat tidur sambil membaca
sebuah buku. Laksamana langsung menuju dapur, mencuci dan memasak ikan yang
dibawanya sebelum Deva datang. Semangkuk sup ikan panas dengan aroma tidak terlalu
sedap akhirnya siap. Tidak ada beras tersisa, namun setidaknya sup ikan ini
akan mampu mengganjal perut mereka.
Deva yang
baru tiba langsung menatap Laksamana dan menarik sang adik yang sedang menata
meja ke dapur sempit rumah mereka. “Ibu sakit, kalau makan ikan itu, gimana
kalau makin parah?” Deva melihat sorot mata Laksamana yang sedikit sendu.
“Meski kakak bisa belikan ibu obat, dia ngga bisa makan obat itu sebelum makan
kan?” Laksamana berujar demikian setelah melihat kantung obat di tangan Deva.
Terkadang, ibu Ita pemilik lapak cabai dan bawang, tempat yang Deva kunjungi
untuk bantu-bantu akan memberikan uang. Tentu Deva akan langsung menggunakan
uang itu untuk membeli obat ibu mereka. Meski tidak bisa ke dokter dan
melakukan pemeriksaan menyeluruh, setidaknya obat pereda nyeri kepala ini
membuat ibu mereka tidur lebih nyenyak di malam hari. Kedua bersaudara itu
sendiri tidak tahu pasti apa yang diderita ibu mereka.
Laksamana
melirik perabot rusak yang ada di sekitarnya. Barang-barang yang ada di
rumahnya adalah pemberian atau sampah yang ia dan sang kakak dapatkan di sungai
atau tempat pembuangan. Mereka tidak mampu membeli jadi mereka memungutnya.
Limbah buangan yang orang-orang anggap tidak berharga dan mereka buang, justru
menjadi hal yang berguna untuk keluarga mereka.
“Seperti
makhluk pemangsa limbah buangan. Selama ini kita hidup dari apa yang orang lain
buang, kita hidup dari apa yang dianggap tidak berharga dan hanya sekedar
sampah semata. Aku juga enggan mengakuinya, tapi kita membutuhkan semua yang
mereka buang bukan?” Laksamana memberikan tatapan yang tidak bisa Deva abaikan.
“Kita membutuhkannya” Deva menghela nafas sedikit berat, melepaskan lengan
adiknya yang kembali menghampiri sang ibu untuk memberikan mangkuk yang sudah
diisi dengan sup ikan. Deva menarik sudut bibirnya tersenyum, ikut bergabung
dengan keluarga kecilnya. Laksamana memberikan mangkuk lain kepada sang kakak
yang duduk di hadapannya.
Bahkan meski
mereka tidak memiliki apapun...
Bahkan saat
begitu banyak hal yang mereka khawatirkan...
Saat-saat
seperti ini lah yang memberikan energi, memberikan tenaga lebih untuk bertahan.
Satu hari lagi bertahan untuk hari yang lebih baik di masa depan.
Harapan
selalu ada bukan?
“Ibu, Pak
Damar ajak Deva buat bantu-bantu di peternakan lele adik beliau di kota
sebelah. Peternakan pak Damar gagal bu jadi benih yang masih selamat bakal
dipindahkan besok. Karena istri pekerja pak Damar sedang melahirkan, jadi pak
Damar butuh pengganti. Deva dapet upah yang lumayan banget, cuma satu minggu ko
bu. Deva berangkat besok petang yah”. Laksamana yang mendengar ucapan kakaknya
tampak kebingungan. Belum pernah ia berpisah dengan sang kakak satu hari pun.
“Kakak bakal
pulang atau justru bakal kayak bapak?” Deva menatap sang adik sambil tersenyum.
“Emang ada alasan buat kakak nggak pulang?” Laksamana menunduk kecil. Ia tahu
bahwa ia tidak boleh bersikap seperti ini di hadapan ibunya. Laksamana tahu
betul bahwa ia harus membuat ibunya lebih santai dan tidak memikirkan hal rumit
apapun.
Namun ia
tidak mau ditinggalkan lagi.
Rasanya
terlalu menakutkan.
Deva menepuk
kepala Laksamana dengan sendok di tangannya. Laksamana menatap sorot mata
kakaknya yang tersenyum tulus, tatapan yang berbeda saat ayahnya berkata akan
pergi merantau. “Apa yang paling berharga untuk kakak ada disini. Jadi, mengapa
kakak berniat untuk tidak pulang hem?” ucapan Deva membuat Laksamana tersenyum
dan mengangguk kecil. Deva ikut tersenyum, sorot mata penuh harapan milik
Laksamana akhirnya kembali. Sorot mata penuh cahaya dan tulus itu adalah hal
yang paling memberikannya kekuatan lebih.
Laksamana
hampir melupakan hal paling penting dalam hidupnya. Ia tidak memiliki apapun?
Tentu saja ia keliru. Ia memiliki ibu yang menyayangi dan mempercayainya, ia
juga memiliki kakak yang begitu bisa diandalkan dan begitu disayanginya.
Bukankah apa
yang Laksamana miliki adalah hal yang begitu besar?
Apakah
kehidupan mereka akan membaik kedepannya?
Entahlah
tidak ada yang tahu. Namun selama ada harapan, disitu ada kemungkinan besar.
Hal itulah yang kedua saudara itu yakini selama ini.
Komentar
Posting Komentar