Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

Perlukah Menghapus Karya Lama?

  Perlukah Menghapus Karya Lama? Saat Tulisan Masa Lalu Bertabrakan dengan Nilai Masa Kini Pernah nggak sih, kamu baca lagi tulisan lama sendiri lalu merasa, “Ini aku banget… tapi kok juga bukan aku yang sekarang?” Rasanya janggal, bahkan kadang memalukan. Di titik itulah banyak penulis mulai bertanya: apakah karya lama perlu dihapus? Tulisan Itu Lahir dari Zaman, Bukan dari Kekosongan Setiap karya lahir dari konteks—cara pikir, pengalaman, dan nilai yang hidup di masanya. Masalahnya, dunia tidak diam. Cara kita memandang sesuatu berubah. Sensitivitas meningkat. Hal yang dulu dianggap biasa, sekarang bisa jadi terasa salah. Akibatnya, karya lama sering terlihat “tidak cocok” dengan standar hari ini. Sebagian penulis memilih jalan cepat: hapus. Alasannya beragam—mulai dari takut disalahpahami, dianggap tidak peka, sampai sekadar merasa “cringe” dengan gaya lama mereka. Tapi… apakah itu solusi terbaik? Ketika Karya Lama Jadi Kontroversi Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Banyak ...

Perlukah Menghapus Karya Lama?

  Perlukah Menghapus Karya Lama? Saat Tulisan Masa Lalu Bertabrakan dengan Nilai Masa Kini Pernah nggak sih, kamu baca lagi tulisan lama sendiri lalu merasa, “Ini aku banget… tapi kok juga bukan aku yang sekarang?” Rasanya janggal, bahkan kadang memalukan. Di titik itulah banyak penulis mulai bertanya: apakah karya lama perlu dihapus? Tulisan Itu Lahir dari Zaman, Bukan dari Kekosongan Setiap karya lahir dari konteks—cara pikir, pengalaman, dan nilai yang hidup di masanya. Masalahnya, dunia tidak diam. Cara kita memandang sesuatu berubah. Sensitivitas meningkat. Hal yang dulu dianggap biasa, sekarang bisa jadi terasa salah. Akibatnya, karya lama sering terlihat “tidak cocok” dengan standar hari ini. Sebagian penulis memilih jalan cepat: hapus. Alasannya beragam—mulai dari takut disalahpahami, dianggap tidak peka, sampai sekadar merasa “cringe” dengan gaya lama mereka. Tapi… apakah itu solusi terbaik? Ketika Karya Lama Jadi Kontroversi Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Banyak ...

Development Plan Itu Bukan Formalitas. Itu Cermin.

Development Plan Itu Bukan Formalitas. Itu Cermin. Kamu diminta mengisi Development Plan ? Jangan merasa hal itu menjadi pekerjaan rumah tambahan apalagi menjadi beban. Jangan pula kamu hanya sekedar: Mengisi. Menandatangani. Selesai. Lalu dilupakan. Padahal kalau jujur—dokumen itu bukan soal HR. Itu bisa menjadi sarana kamu mengenal diri lebih jauh saat tidak ada yang melihat.  Masalahnya Bukan Skill. Tapi Emosi yang Tidak Terkelola. Kita sering berpikir: “Aku kurang ilmu.” “Aku butuh training.” Padahal yang lebih sering terjadi: Kamu tahu harus apa Tapi tidak melakukannya Karena emosimu lebih dulu mengambil alih Marah. Kesal. Tersinggung. Atau… Malas... Di situlah stabilitas emosi jadi kompetensi, bukan sekadar sifat. Semua Dimulai dari Hal Sederhana: Mengakui Trigger Development Plan yang kamu pegang itu sebenarnya sederhana—bahkan terlalu sederhana untuk diabaikan: Identifikasi apa yang memicu emosimu Tulis pola reaksimu Sadari, bukan menyangkal Karena tanpa itu, kamu hanya a...

Sebuah Makna Atau Hanya Hiburan: Sebenarnya Menulis dan Membaca Itu Buat Apa?

Sebuah Makna Atau Hanya Hiburan: Sebenarnya Menulis dan Membaca Itu Buat Apa? Karya itu harus bermakna… Tidak! Karya itu cukup sekedar menjadi hiburan semata! Dari dua opsi itu, kamu berada di sisi mana? Dua  pendapat ini memang sering berbenturan. Terlihat sederhana, namun jika kita dalami lagi, realitasnya jauh lebih kompleks daripada sekadar menentukan satu sisi. Saat Sastra Didorong menjadi Cerminan Zaman Di Masa lalu, situasi sosial yang penuh tekanan bisa menciptakan karya besar. Manusia bisa memahami dunia melalui sastra. Karya-karya yang muncul di tengah konflik, ketidakadilan, juga perubahan sosial akan membawa ledakan pesan kuat. Terkadang ditampilkan tanpa tahu batasan, terkadang juga disembunyikan dengan begitu lihai.  Sejalan dengan argumen tersebut, dalam buku  Literary Theory: An Introduction karya Terry Eagleton melihat dan menganggap bahwa sastra seperti reflektor akan kondisi sosial dan kebudayaan manusia.  Dengan pemikiran demikian, dapat melahirka...