Sebuah Makna Atau Hanya Hiburan: Sebenarnya Menulis dan Membaca Itu Buat Apa?

 Sebuah Makna Atau Hanya Hiburan: Sebenarnya Menulis dan Membaca Itu Buat Apa?

Karya itu harus bermakna…
Tidak! Karya itu cukup sekedar menjadi hiburan semata!

Dari dua opsi itu, kamu berada di sisi mana? Dua  pendapat ini memang sering berbenturan. Terlihat sederhana, namun jika kita dalami lagi, realitasnya jauh lebih kompleks daripada sekadar menentukan satu sisi.

Saat Sastra Didorong menjadi Cerminan Zaman

Di Masa lalu, situasi sosial yang penuh tekanan bisa menciptakan karya besar. Manusia bisa memahami dunia melalui sastra. Karya-karya yang muncul di tengah konflik, ketidakadilan, juga perubahan sosial akan membawa ledakan pesan kuat. Terkadang ditampilkan tanpa tahu batasan, terkadang juga disembunyikan dengan begitu lihai. 

Sejalan dengan argumen tersebut, dalam buku  Literary Theory: An Introduction karya Terry Eagleton melihat dan menganggap bahwa sastra seperti reflektor akan kondisi sosial dan kebudayaan manusia. 

Dengan pemikiran demikian, dapat melahirkan pendapat kuat lainnya. Bahwa kata “netral” tidak pernah pantas disematkan dalam sebuah karya tulis. Selalu ada “maksud / agenda / atau tujuan” tertentu yang mengiringinya.

Contohnya The Devotion of Suspect X karya Keigo Higashino, siapapun dapat menyadari bahwa karya ini bukan sekedar hiburan semata. Bukan hanya soal misteri, tetapi juga tentang pengorbanan, cinta, dan logika manusia. Hiburan dan makna bisa berjalan beriringan sejak lama.

Hiburan yang Diam-Diam Mengkritik
Masuk ke era yang lebih modern, pola ini masih terus berulang—hanya bentuknya yang berubah. Banyak karya yang terlihat “ringan” di permukaan, tetapi sebenarnya menyimpan kritik sosial yang tajam.

The Hunger Games karya Suzanne Collins, secara kasat mata, ini adalah cerita penuh aksi tentang kompetisi bertahan hidup. Novel yang terlihat seperti fiksi biasa ini, mengorek tentang kesenjangan sosial, eksploitasi media, dan kekuasaan yang tidak adil. 

Banyak cerita yang tampak sederhana—romansa, fantasi, atau slice of life—namun justru diminati karena memberi “pelarian” dari tekanan hidup modern. Setelah pandemi global dan meningkatnya tekanan sosial-ekonomi, kebutuhan akan hiburan yang ringan justru semakin tinggi.

Contohnya lagi, karya seperti Dallergut Dream Department Store menawarkan dunia yang hangat dan penuh imajinasi. Tidak berat secara filosofi, tapi tetap menyentuh sisi emosional pembaca. Ini mencerminkan kebutuhan zaman: orang tidak selalu ingin “dipaksa berpikir”, kadang mereka hanya ingin merasa nyaman.

Polarisasi Selera Pembaca
Pernah merasa dihakimi hanya karena pilihan bacaanmu? Entah itu mendapat tatapan sinis atau justru pujian berlebihan hanya dari buku yang kamu pegang. Kedengarannya sepele, tapi hal seperti ini memang masih terjadi.

Kalau kamu pernah mengalaminya, tidak perlu terlalu dipikirkan. Setiap orang punya selera masing-masing, dan itu sah-sah saja. Penilaian orang lain sering kali lebih mencerminkan cara pandang mereka sendiri, bukan nilai dari apa yang kamu baca. Jadi, cukup pahami saja—dan lanjutkan menikmati bacaanmu tanpa perlu merasa bersalah.

Ada kelompok pembaca yang berpendapat bahwa karya ringan itu “kurang berbobot bahkan kekanak-kanakan”, sementara yang lain justru merasa karya yang terlalu berat itu melelahkan.

Fenomena ini, makin marak di platform digital—dari novel online, film populer, sampai serial streaming. Sesuatu yang dianggap menghibur akan melesat viral, di lain sisi karya dengan makna khusus biasanya mendapat apresiasi lebih, meski dari audiens yang lebih terbatas.

Meski memiliki peminat tersendiri, umumnya, karya yang bisa menyeimbangkan keduanya yang akan bertahan.

Haruskah Kita Pilih Salah Satu?
Tidak akan ada pemenang mutlak dari kedua sisi ini. Jadi, masih haruskah kita memilih salah satu?

Cerita menarik melahirkan jutaan pembaca. Cerita bermakna, akan melekat dalam ingatan. 

Kamu bisa menarik pelajaran, mengembangkan pengetahuan, menemukan teman bacaan, atau mendapatkan hiburan. Sebuah karya itu tidak hanya memiliki satu tujuan dalam penciptaan nya bukan?

Cari Kebutuhan, Bukan Kewajiban!
Penulis selalu memiliki “bahasa” mereka sendiri–penulis butuh menyampaikannya. Seperti penafsir, pembaca bisa menjadi penerjemah makna tersebut. Satu bait karya bisa menciptakan 100 tafsiran diantara 100 penafsir. Pembaca butuh menerima tafsiran tersebut. 

Seringnya, sastra dijadikan sebagai media perlawanan. Di masa lalu, sastra sering menjadi alat perlawanan atau refleksi sosial. Di masa kini, bisa dijadikan sebagai ruang untuk beristirahat sejenak, mungkin istilah yang bisa digunakan adalah “menjaga kewarasan” dari pembaca itu sendiri. 

Jika demikian, bagaimana jika kita ubah pertanyaannya dari “harus bermakna atau menghibur”, menjadi: apa yang sedang dibutuhkan saat ini?

Menurutmu sendiri, di tengah kondisi dunia sekarang kamu lebih mencari makna, atau justru hiburan saat membaca?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN: Gadis Porselen Dibalik Jeruji Besi

Karakter Sempurna Novel Tidak Menarik?

Membangun Karakter Antihero yang Menarik