Perlukah Menghapus Karya Lama?

  Perlukah Menghapus Karya Lama? Saat Tulisan Masa Lalu Bertabrakan dengan Nilai Masa Kini Pernah nggak sih, kamu baca lagi tulisan lama sendiri lalu merasa, “Ini aku banget… tapi kok juga bukan aku yang sekarang?” Rasanya janggal, bahkan kadang memalukan. Di titik itulah banyak penulis mulai bertanya: apakah karya lama perlu dihapus? Tulisan Itu Lahir dari Zaman, Bukan dari Kekosongan Setiap karya lahir dari konteks—cara pikir, pengalaman, dan nilai yang hidup di masanya. Masalahnya, dunia tidak diam. Cara kita memandang sesuatu berubah. Sensitivitas meningkat. Hal yang dulu dianggap biasa, sekarang bisa jadi terasa salah. Akibatnya, karya lama sering terlihat “tidak cocok” dengan standar hari ini. Sebagian penulis memilih jalan cepat: hapus. Alasannya beragam—mulai dari takut disalahpahami, dianggap tidak peka, sampai sekadar merasa “cringe” dengan gaya lama mereka. Tapi… apakah itu solusi terbaik? Ketika Karya Lama Jadi Kontroversi Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Banyak ...

CERPEN: Untukmu, diriku

 Untukmu, diriku

            Orang bilang menjadi dewasa adalah saat dimana kita kehilangan diri kita. 

Beberapa lainnya mengatakan, menjadi dewasa hanya bisa terjadi saat kita benar-benar menghendakinya. 


Tidak banyak yang membahas mengenai menjadi dewasa karena tuntutan keadaan. 

Apa karena hal itu dianggap tabu?


Ketika seseorang merasakan guncangan yang dahsyat dalam dirinya dalam proses pendewasaan... Orang lain akan mengatakan bahwa dia memiliki iman yang lemah, dia tidak kuat dan jauh dari tuhannya. 

Sedikit, bahkan hampir tidak ada yang benar-benar peduli dan mengkhawatirkan keadaannya. 


Hidup…

Apa selalu seperti ini?..

Akan menjadi orang dewasa seperti apakah diriku?

Aku, jadi sedikit takut.


Syaa menutup bukunya. Melempar pena yang secara tepat sasaran masuk ke gelas murahan yang dijadikannya sebagai tempat bolpoin.

Gadis itu terdiam, melihat jam pada ponsel yang menunjukan pukul 23.57. Beberapa jam lagi ia akan genap berusia 21 Tahun. Namun sitasi aneh ini kembali datang. 


Situasi dimana kesedihan berkepanjangan, untaian benang kekecewaan, rasa frustasi dan ketakutan bergumpal menjadi satu. Menjadi bola penderitaaan yang terasa begitu sesak dan menjengkelkan disaat yang bersamaan. 


Gadis itu meraih korek berwarna emas yang dibelinya di online shop. Ia masuk ke bawah meja dan mulai meringkuk terdiam. 

Perasaan ini selalu kembali, sudah tiga tahun ia merasakannya…

Apa dia tidak baik-baik saja?

Tentu saja tidak…

Syaa menyadari bahwa ia tidak baik-baik saja. Namun bukankah semua orang demikian? Tidak ada orang selalu memiliki jalan mulus dalam hidupnya. 


Ctekkk


Suara korek api yang dinyalakan membuat suasana hening semakin terasa. 

Syaa meniup api yang baru dinyalakannya. 

“Selamat ulang tahun. Aku sangat menyayangimu, diriku” 


Syaa tiba-tiba mengingat perkataan seseorang di masa lampau. “Tidakkah kau terlalu menyayangi dirimu sendiri?”. Begitu katanya.. Syaa hanya merasa kebingungan. Jika ia tidak menyayangi dirinya, siapa yang akan menyayanginya? 

Apa menyayangi diri sendiri adalah kesalahan?


TIDAK!


Syaa tahu betul jawabannya..


Segala ketakutan yang ada pasti akan terlewati…

Segala cobaan berat yang menimpah, pasti akan berlalu…

Karena dirimu berharga…

Karena diriku berharga…

Karena itulah, Bertahanlah…

Kamu, Aku pasti bisa!!!


                                By: HegaEca


Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERPEN: Gadis Porselen Dibalik Jeruji Besi

Karakter Sempurna Novel Tidak Menarik?

Siapa yang Menguasai Cerita? Perdebatan Abadi antara Penulis dan Pembaca